Hai..
Setelah kemaren bicara tentang esensi, rasanya
kita mulai menganggap lazim seseorang yang memuji orang lain karena esensinya,
seperti para ulama yang memiliki esensi mulia bagi pengikutnya, begitu pula
pada para pendeta dan tokoh-tokoh lainnya.
Ya memang benar lazim.. sekarang apa
ensensi dari kehidupanku? Mungkin pertanyaan ini juga akan terlintas
dipikiran orang banyak, dan kuharap jawabannya akan jadi kabar baik.
Hari ini aku akan menuliskan apa yang memang
sering dirasakan oleh orang banyak.
Apa itu? Cinta!
CINTA, sebuah hal yang bukan asing lagi ditelinga kita. Sekalipun
aku tahu bahwa cinta adalah suatu kebutuhan, namun sampai sekarang, aku belum
pernah menemukan apa sebenarnya definisi cinta itu sendiri. Dan aku tidak
pernah puas.
Satu hal yang kuyakini,
ketika kita berbicara tentang cinta, maka kita sedang berbicara tentang
keindahan, duka yang menyenangkan serta kalimat puji pujaan.
Ketika berbicara cinta
sebagai kebutuhan, aku akan menyatakan bahwa cinta adalah
kebutuhan kita pada level 3, setelah level pertama pada kebutuhan pokok seperti
makan, minum, dan bernafas. Sedangkan kebutuhan kedua adalah pada rasa aman dan
damai. Pada level 3 adalah kebutuhan cinta dan rasa memiliki.
Baiklah kuberi beberapa
pertanyaan yang membuat kita menyepakati cinta pada level 3 tersebut. Pertama,
bisa kita pikirkan bagaimana ingin mencinta jika kita sedang tidak bisa
bernafas? Kedua, bisa kita pikirkan bagaimana bisa mencinta jika nyatanya kita
sedang merasa tidak aman (yang benar-benar tidak aman)? Ketiga, bisa kita
pikirkan betapa leluasanya kita mencinta ketika kita tetap bisa bernafas dan
merasa damai?
Benar saja kata
Jalaluddin Rumi, salah satu tokoh sufi yang sangat kukagumi pemikirannya.
Bahwa, puncak cinta adalah rasa ikhlas yang kita hadirkan pada yang dicinta.
Sehingga, kita tidak akan mencari cara agar menguntungkan diri, namun hanya
akan sibuk berorientasi pada yang dicinta.
Benar saja yang
diteladankan oleh Rabi’ah Adawiyah, salah satu tokoh sufi yang juga kukagumi,
bahwa dengan mencinta pada akhirnya kita hanya ingin terus bersama dengan yang
dicinta
Meski kedua tokoh diatas
memaknai cinta atas Tuhan mereka. Namun, kurasa tidaklah salah ketika kita
ingin mengambil hikmah yang terkandung. Dengan maksud memfokuskan tulisanku kali
ini tentang cinta kepada seorang manusia .
Seperti yang ku
kemukakan diawal bahwa aku belum menemukan definisinya. Namun, kita pasti
pernah merasakan cinta. Sehingga, tulisanku kali ini tidak akan ku awali dengan
mendefinisikan hal yang aku mengerti, aku rasa dan aku paham, namun tidak bisa
kurangkai kata untuk mendefinisikannya.
Jika cinta sudah kita
tujukan pada seorang manusia, maka kita menjadi sangat khawatir tentang dia
yang kehujanan, dia yang terlambat makan, dia yang jatuh sakit atau apalah biasanya.
Padahal kita tidak pernah sekhawatir itu pada diri sendiri. Ini hal yang orang
lain ketika melihat kita seperti itu mungkin akan berkata “berlebihan”, namun
percayalah kita sedang berlaku benar dan memang wajar. Aku senang menyebut hal
ini sebagai “Energi Luar Biasa”.
“Cinta adalah energi
yang luar biasa, dan yang dicinta adalah sumber energi tersebut”
Kita akan merasakan
energi luar biasa (cinta) ini ketika memang sedang benar-benar cinta. Sebagai
permisalan, ketika kita tidak sedang bersemangat untuk kuliah, namun kita ingat
bahwa kuliah adalah salah satu cara untuk bertemu yang dicinta, maka kita akan
mulai beranjak dari rasa tidak semangat tersebut ke gairah yang membuat kita
menjadi ingin tetap kuliah.
Pernah juga ketika
semisal kita yang sebenarnya takut senjata tajam, namun jika melihat orang yang
dicinta sedang ditodong senjata tajam oleh penjahat, maka kita akan mencoba
untuk melindungi orang yang kita cinta. Apa artinya ini? Cinta membuat kita
jadi tidak takut senjata tajam yang bisa saja membunuh, ini dilakukan demi
melindungi yang dicinta. Itu wajar. Dan itu berasal dari sumber energi yang
luar biasa.
“Kulitku ku sungguh
tidak kebal terhadap senjata tajam, namun ketika dia terancam oleh senjata
tajam, aku siap menghadapi dan melindunginya”
Sebagai sumber energi,
mungkin kita punya kriteria khusus dalam mencinta, baik itu tentang hidung dia
yang harus mancung, kulitnya yang harus putih, badan tinggi, dia yang cerdas,
punya karisma, dan apalah biasanya. Namun, aku sangat yakin bahwa ketika kita
sudah mencinta, maka semua kriteria itu tidaklah berguna. Karena kita sudah
“cinta”.
Mengenai harapan dan
ketakutan dalam mencinta, harus ku katakan bahwa kita tidak dapat
menghindarinya, sebab dalam cinta harapan dan ketakutan akan selalu berdampingan.
Kita yang takut kehilangan dia, dengan kata lain kita juga sebenarnya
mengungkapkan bahwa kita berharap dia tetap bersama kita. Kita yang takut dia
dekat dengan orang lain, dengan kata lain kita juga sebenarnya mengungkapkan
bahwa kita berharap dia tidak berpindah hati ke orang lain. Sehingga, sangat
wajar sekali semisal kita cemburu ketika kita melihat orang lain juga mencintai
dengan orang yang kita cinta. Itu normal, dan memang harus seperti itu.
Dan memang begitukan
adanya?
SEE YOU!
Nanti aku akan menulis lagi

0 comments:
Post a Comment