Hai..
Aku sangat bersyukur
hari ini dapat menulis kembali, kuharap kalian juga begitu, dapat mensyukuri
hal-hal yang begitu sederhana, namun memiliki esensi yang luar biasa.
Sebab, banyak dalam kehidupan ini hal-hal yang secara eksistensial mungkin sangat menarik, tapi belum tentu dengan esensialnya, begitupula sebaliknya. Bagiku menulis menjadi sesuatu yang berharga karena dapat membuatku lebih bahagia, sehingga bahagia adalah esensi dari kegiatan menulisku.
Sebab, banyak dalam kehidupan ini hal-hal yang secara eksistensial mungkin sangat menarik, tapi belum tentu dengan esensialnya, begitupula sebaliknya. Bagiku menulis menjadi sesuatu yang berharga karena dapat membuatku lebih bahagia, sehingga bahagia adalah esensi dari kegiatan menulisku.
Apa itu esensi? mungkin
pertanyaan ini akan menjadi hal menarik, karena tidak jarang kita terjebak pada
pandangan eksistensial dan kehilangan esensinya (atau sama sekali tidak
memikirkan esensinya)
Untuk esensi itu
sendiri dapat kuperjelas menjadi “nilai
yang hakiki, paling pokok & makna” Dan untuk eksistensi itu sendiri
dapat kuperjelas menjadi “sesuatu yang
tampak ada & keberadaan”.
Jadi cukup jelas
hubungannya, bahwa sesuatu yang “ada atau berada” pasti memiliki “nilai hakiki,
nilai pokoknya dan makna”
Kenapa bisa begitu? Bagi
mayoritas filsuf, manusia memang memiliki kecendrungan untuk mencari makna,
sehingga bukan menjadi hal biasa ketika manusia menggunakan akal dan hatinya
untuk mencari makna pada benda, peristiwa dan hal-hal yang “ada” lainnya.
Bahkan tidak jarang manusia akan memperdebatkan sesuatu karena berbeda dalam mengambil
kesimpulan terhadap maknanya.
Seperti ketika
seseorang pengendara dengan knalpot nyaring
nya lewat didepan rumahku, menurut pengendara itu motornya terdengar gagah
dengan knalpot seperti itu, tapi bagiku sangat menganggu dan berisik. Sehingga
sangat memungkinkan bukan akan ada perdebatan?
lalu siapa yang salah? Mungkin ini akan terjawab oleh norma sosial atau juga ukurannya adalah kedamaian dalam bermasyarakat (aku tidak membatasi ukurannya, jika memang diperlukan, aturan berkendara dari pemerintah pun dapat digunakan)
lalu siapa yang salah? Mungkin ini akan terjawab oleh norma sosial atau juga ukurannya adalah kedamaian dalam bermasyarakat (aku tidak membatasi ukurannya, jika memang diperlukan, aturan berkendara dari pemerintah pun dapat digunakan)
Tapi seberapa penting “esensi” bagi kehidupan? Ya sangat
penting.
Ku beri contoh, yang lebih penting dari nasi adalah rasa kenyang yang dihadirkannya dibanding keberadaan nasi tersebut. Jadi keberadaan nasi tidak penting? Bukan begitu cara berpikirnya. Karena kita sekarang membandingkan mana yang lebih penting. Artinya eksistensi tetap penting, namun esensi jauh lebih penting.
Ku beri contoh, yang lebih penting dari nasi adalah rasa kenyang yang dihadirkannya dibanding keberadaan nasi tersebut. Jadi keberadaan nasi tidak penting? Bukan begitu cara berpikirnya. Karena kita sekarang membandingkan mana yang lebih penting. Artinya eksistensi tetap penting, namun esensi jauh lebih penting.
Begitupula dengan air,
rasa hausku yang hilang jauh lebih penting dari keberadaan air itu sendiri.
Sudah sangat nyata
bukan?
Coba bayangkan aku minum 20 liter air saat buka puasa, tapi tetap tidak menghilangkan haus, artinya untuk apa aku minum? Sedangkan aku meminum itu tujuannya adalah ingin menghilangkan rasa haus.
Coba bayangkan aku minum 20 liter air saat buka puasa, tapi tetap tidak menghilangkan haus, artinya untuk apa aku minum? Sedangkan aku meminum itu tujuannya adalah ingin menghilangkan rasa haus.
Begitulah adanya?
SEE YOU!
Nanti aku akan menulis
kembali
0 comments:
Post a Comment